Jumat, 20 April 2018

Multi Talent (Devitha Anggun)



Profesi yang digeluti Devitha Anggun sebagai Kasubag Kerjasama dan Kelembagaan UIN Raden Intan Lampung, tak lantas membuat dia jauh dari hobi menyanyi yang sudah lama digandrunginya. Hal itu dibuktikan lewat sederet predikat juara di berbagai perlombaan, baik ditingkat kota maupun provinsi.

Perempuan kelahiran 19 Januari 1984 yang akrab disapa Ses Anggun ini, berkarir di UIN Lampung sejak 13 tahun silam. Saat itu ia masih menempuh Pendidikan S1 Jurusan Bahasa Inggris di Universitas Lampung (UNILA) dan S1 Ekonomi Managemen di Informatics and Business Institute Darmajaya (IBI Darmajaya).

Aktivitas keseharian Anggun sebagai Kasubag Kerjasama dan Kelembagaan UIN Raden Intan Lampung.
“Awal mendaftar tes PNS melalui informasi dari koran. Kata mama coba aja dulu siapa tahu keterima. Setelah pengumuman ternyata keterima PNS. Senang sekaligus bingung karena posisi masih semester 4, masih senang-senangnya kuliah. Setelah berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan untuk bekerja di UIN Raden Intan,” kisahnya kepada Netizenku, Senin (5/3).

Pertama kerja, imbuhnya, dirinya ditempatkan sebagai staf perpustakaan dan di akademik. Seiring waktu kemudian diangkat menjadi sekertaris pribadi (sespri) Moh. Mukri pada tahun 2007. “Setelah Pak Mukri menjadi rektor, saya diangkat lagi menjadi sespri rektor hingga 2017. Alhamdulillah awal tahun kemarin saya kembali dipercaya menjalankan amanah sebagai Kasubbag Kerjasama dan Kelembagaan,” imbuhnya.

Mengenai hobi menyanyinya, anak pertama dari 3 bersaudara ini, mengaku mencintai dunia seni sejak usia 3 tahun. Kegemerannya itu membuahkan prestasi untuk pertama kalinya saat duduk di bangku SD. Ketika itu Anggun menjuarai lomba solo song se-Bandarlampung, dan menuntaskannya sampai kejuaraan di tingkat nasional. Tidak hanya di bidang tarik suara, Anggun juga pernah memenangkan lomba puisi dan membaca sastra Lampung.

“Seni sudah mendarah daging untuk saya. Malah bisa dibilang sangat sulit dan bahkan tidak mungkin untuk dilepas total. Jadi Meskipun bekerja tetap mencintai seni,” aku perempuan berkulit putih yang pernah mendapat kesempatan tampil diajang nasional, setelah menjuarai solo song di Festival Krakatau itu.

Dikatakan Anggun, dari sekian ajang yang pernah dijajalnya, even solo song pionir tingkat nasional merupakan yang paling mengesankan. Pasalnya, ketika itu ia didapuk sebagai official solo song pionir UIN Raden Intan, dan selama dua tahun berturut-turut menjadi juara sekaligus mengharumkan nama kampus. Saat ditanya apa resepnya dalam mengukir prestasi, Anggun menjawab dengan penuh kerendahan.

“Semua itu dapat berhasil karena kita tidak pernah meremehkan hal sepele. Sebab bila tidak teliti pada hal sepele, yang sepele itu bukan tidak mungkin akan menjadi hal besar,” pungkasnya. (Yesi Putri Lestari)

Seputar Ikatan Mahasiswa Muslim Tulang Bawang (IKAMM TUBA)


Ikatan Mahasiswa Muslim Tulang Bawang (IKAMM Tuba) harapkan legalitas organisasi dari Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Hal itu diungkapkan Ketua IKAMM Tuba Darli Saputra saat mengadakan silaturahmi dengan Ikatan Mahasiswa Lampung Utara (IKAM Lampura) di Perumahan Taman Prasanti, Sukarame, Bandarlampung, Minggu, (4/3).

Darli mengharapkan, IKAMM Tuba mampu seperti IKAM Lampura yang sudah mampu melegalkan organisasinya. Ia juga mengatakan silaturahmi seperti ini harus sering dilakukan untuk meningkatkan jalinan kekeluargaan dan bisa digunakan sebagai ajang tukar pikiran antar mahasiswa dari berbagai daerah.

Wadah aspirasi IKAMM Tuba Ini sudah berdiri 10 tahun silam, namun sampai saat ini IKAMM tuba belum mendapatkan legalitas dari kemenkumham. Darli Menargetkan tahun 2018 IKAMM Tuba akan memperoleh legalitas.

Saat ditemui Netizenku.com Darli memaparkan, bahwa terdapat 165 anggota IKAMM Tuba yang berasal dari berbagai Kampus, diantaranya Universitas Lampung (UNILA), Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL), Politeknik Kesehatan (Poltekes), Politeknik Negeri Lampung (Polinela), Darmajaya, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP), Universitas Bandar Lampung (UBL), Akademi Keperawatan Adila, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro dan Universitas Muhammadiyah Metro (UMM).

“Harapan saya, Setelah dilegalkan IKAMM Tuba akan dikenal dan seluruh anggotanya mampu mewujudkan slogan IKAMM Tuba ‘Bersama Membangun Daerah,” pungkas Darli. (Yesi)

Contoh Penulisan Berita Perjalanan



Tak ingin mahasiswanya menjadi katak dalam tempurung, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung adakan tour supervisi atau study banding (fieldtrip) ke 5 daerah di luar Lampung. Rombongan mahasiswa ini dilepas langsung oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan keguruan, Khoirul Anwar, di pelataran Ma’had Aljami’ah UIN Raden Intan Lampung, Sabtu (3/3).

Dalam sambutannya, Chairul Anwar menyampaikan bahwa fieldtrip ini bertujuan menambah pengetahuan dan wawasan bagi generasi emas mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam (MPI). “Kita jangan jadi katak dalam tempurung, Mahasiswa MPI harus melihat dunia luar yang maju, agar MPI juga bisa lebih maju. Dalam perjalanan, tolong jaga nama baik UIN, manfaatkan perjalanan sebaik-baiknya. Kita berangkat tersenyum dan kembali dengan senyuman bahagia, “ujarnya.



Sementara itu ketua pelaksana kegiatan, Ahmad Subarkah mengatakan, terdapat 217 mahasiswa MPI yang mengikuti fieldtrip ini, dan ada 5 tempat yang akan dikunjungi yaitu Jakarta, Semarang, Jogja, Mojokerto dan Malang.

“Ada kunjungan akademis dan non akademis. Kunjungan akademis kita ke UIN Sunan Kalijaga Yogya, Pondok Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto, UIN Malang, dan Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Sedangkan yang non akademis kita akan ke Masjid Istiqlal, Jakarta, Museum Lawang Sewu, Semarang, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan, ” paparnya.



Saat ditemui Netizenku.com, Ketua tim Garuda Wisata, Toat Aris menyampaikan, keberangkatan ini menggunakan Garuda Wisata tour travel yang bekerjasama dengan Puspa Jaya. Ada 6 tour guide dan 2 tim medis yang disediakan oleh Garuda Wisata Dan 15 crew dari Puspa Jaya.

“Diperjalanan kami juga menyediakan fasilitas yaitu minuman, snack, Wi-fi dan Asuransi kesehatan selama perjalanan. Jika ada kejadian yang mendesak peserta untuk kembali kami juga menyediakan fasilitas ticket pesawat pulang, ” pungkasnya. (Aby/Yesi).

Feature Pejuang Wanita


Keseharian Ibu Syamsudin akrab dengan ban bocor dan peralatan bengkel.
Kegigihan perempuan satu ini dalam menyambung hidup keluarganya patut diacungi jempol.
Syamsuni atau biasa dipanggil dengan sapaan Ibu Syamsuni ini, sudah 10 tahun menggeluti pekerjaan di bengkel. Hari-harinya tak lepas dari urusan menambal ban.

Mungkin dia bukan satu-satunya perempuan penambal ban, namun catatan panjang perjalanan hidupnya tetap saja memancing decak kagum.

Perempuan kelahiran 15 Agustus 1972 ini, adalah alumni Fakultas Ushuludin, Jurusan Dakwah tahun 1996, Universitas Islam Negeri Raden Intan atau dulu bernama IAIN.

Saat masih mengenyam pendidikan di kampus, perempuan tangguh ini menyambi sebagai pendidik. Ia sempat tercatat menjadi guru honorer di MTsN 2 Bandarlampung. Sayangnya, pengalaman itu hanya berlangsung 2 tahun saja. Setelah diwisuda dia memutuskan berhenti, dan tak berselang lama kemudian menikah. Memulai bahtera baru kehidupannya bersama lelaki idamannya. “Mungkin sudah jodoh,” ungkap Syamsuni, saat ditemui Netizenku di bengkel sederhana miliknya di sekitaran Jalan Pulau Sebesi, Sukarame, Bandarlampung, Kamis (1/3).

Saat bercerita seputar masa lalunya, mata Syamsuni tampak memerah, agaknya dia terkesan dengan kenangan perjalanan hidupnya. “Lepas dari guru honorer, saya juga pernah menjajal jadi pegawai sebuah instansi asuransi. Tapi nggak lama. Nggak betah,” ucapnya sambil menyunggingkan senyum bersahaja.

Lalu, imbuhnya, dia kembali ke ranah pendidikan. Kali ini dia menjadi pendidik untuk anak-anak usia dini. ‘Saya jadi guru lagi. Tapi guru PAUD,” tambah Syamsuni. Hanya saja, lagi-lagi dia kembali meninggalkan profesi sebagai pendidik. “Sejak saat itu saya jadi penambal ban,” kata dia dengan suara sedikit tercekat.

Dia juga menceritakan perjalanan panjangnya selama berkutat di bengkel. “Dulu tempat ini geribik, waktu suami sedang dapat rezeki, dia membangunnya jadi permanen. Terus setelah suami saya meninggal, yang melanjutkan bengkel ini keponakan,” kisahnya tentang balada bengkel sederhananya.

Dari bengkel sederhana ini Ibu Syamsuni menggantungkan nafkahnya.
Praktis sejak menjadi single parent, Syamsuni harus bertanggung jawab dengan semua kebutuhan kedua anaknya. Dan biaya itu diperoleh dari bagi hasil dengan keponakannya dari pendapatan bengkel.

Tapi ritme ini hanya sejenak, sebab bengkelnya sempat ditutup lantaran keponakannya membuka bengkel sendiri di tempat lain. Tapi kehidupan keluarganya harus terus berlangsung. Sementara untuk mencari pekerjaan lain, dirinya terbentur faktor usia yang sudah tidak muda lagi.

“Bermodal nekat dan dan tekad, hasil belajar dari pengalaman saat melihat almarhum suami dan ponakan menambal ban, akhirnya saya putuskan untuk membuka bengkel lagi dan saya jadi penambal bannya,” ungkap Syamsuni bersemangat, sambil menambahkan, dari hasil bengkelnya itulah kehidupan keluarga dan urusan sekolah anak-anaknya bisa dilanjutkan.
“Alhamdulillah masih ada rezeki yang diberi Allah lewat ban-ban bocor itu,” tandasnya seraya tersenyum. (Yesi Putri Lestari)

Mulei Hijab Lampung



Nadzrotul Uyun, Mulei Hijab Lampung 2017.
Prestasi yang disandang Nadzrotul Uyun tak hanya berhenti sebatas Mulei Hijab Lampung 2017 saja, masih ada sederet predikat  membanggakan lainnya yang dikoleksi perempuan kelahiran 10 September 1994 ini.



Salah satu pencapaian terbaik Uyun adalah saat dirinya berhasil merampungkan kuliahnya pada Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Raden Intan, hanya dalam rentang 3,5 tahun saja. Wisudawati terbaik, dengan IPK 3,92, itu kini tengah menunggu hasil seleksi beasiswa IDB (Islamic Development Bank) di UGM (Universitas Gajah Mada).



Kegemilangan Uyun di bidang akademis  sudah tampak saat dirinya masih duduk di bangku SMP. Malah bukan hanya pelajaran di kelas yang dia kuasai. Tetapi dirinya juga mampu menorehkan prestasi di bidang keagamaan. Uyun pernah meraih juara 1 membaca puisi Islami tingkat SMP hingga juara 1 lomba syarhil Qur’an se-Provinsi Lampung pada 2015 silam.



Saat diwawancarai, Uyun tampak menanggapinya dengan bersahaja. “Bahagia pasti, tapi bersyukur itu hal yang paling utama. Mendapatkan amanah tidaklah mudah. Setelah menjadi Mulei Hijab Lampung saya harus mampu menginspirasi orang banyak. Terutama perempuan-perempuan berhijab,” singkatnya, Selasa (27/2). (Yesi Putri Lestari)

Asrama Mahasiswa (Ma'had Al-jami'ah) UIN Raden Intan Lampung


Mahasantri Ma’had Al-jami’ah sedang berpose bersama.
Ada hal unik bila memasuki Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung. Di kawasan kampus bernuansa alami tersebut, terdapat sebuah bangunan bertingkat yang cukup menarik perhatian.

Di dalamnya tinggal 304 mahasantri -sebutan bagi mahasiswa yang menghuni asrama- yang menjalani keseharian dengan pola dan kedisiplinan ala santri di pondok pesantren. Nama asrama mahasiswa itu adalah Ma’had Al-jami’ah, yang merupakan salah satu unit pelaksana teknis (UPT) UIN Raden Intan.

Peserta didik yang menghuni Ma’had merupakan mahasiswa aktif UIN semester 1 sampai semester 4. Sedangkan yang sudah semester 5 tidak lagi menjadi mahasantri,  melainkan sebagai pengurus. “Tentu tidak semua mahasiswa kampus ini bisa diakomodir Ma’had karena keterbatasan daya tampung,” jelas staf administrasi dan pengajar tutorial (mengkaji kitab), Ustadz Asep, Sabtu (24/2).





Sementara bagi yang berminat menjadi penghuni asrama ini, sambung dia, mesti melalui beberapa tahapan. Di antaranya mengikuti tes tertulis dan wawancara. Asep menguraikan, untuk tes tertulis berkaitan dengan pengetahuan keagamaan. Sedangkan tes lisan termasuk di dalamnya tes membaca Al-qur’an, hafalan surah-surah pendek, serta tes bahasa Arab dan Inggris. “Tes berikutnya yakni tes minat bakat,” katanya.

Kemampuan penguasaan bahasa Arab dan Inggris bagi penghuni Ma’had Al-jami’ah memang mendapat perhatian tersendiri. Tak heran kalau mahasantri diberikan bekal pembelajaran khusus kedua bahasa asing tersebut. Asep menambahkan, Ma’had juga menyediakan wadah bagi mahasantri yang memiliki minat dan bakat terhadap bidang jurnalistik, kaligrafi, tilawah, tahfidz dan hadroh.

“Di asrama ini bukan hanya sekadar tempat domisili mahasiswa UIN Raden Intan, tetapi juga mengemban misi sebagai pusat pemantapan akidah dan akhlak, serta pengembangan ilmu dan tradisi kelislaman untuk melahirkan sarjana muslim yang memiliki keunggulan di bidang ilmu keislaman,” urainya.



Dia juga menyebutkan, dari 304 mahasantri yang ada 97 di antaranya adalah mahasantri semester 4, sedangkan 207 mahasantri lainnya kuliah pada semester 2, dan terakhir tak kurang ada 34 pengurus.

Kedisiplinan tingkat tinggi di lingkungan Ma’had Al-jami’ah agaknya tidak sia-sia. Setidaknya manfaatnya dirasakan langsung oleh para mahasantri. Seperti diakui Afriyanti, salah satu mahasantri yang pernah didapuk sebagai “the best student 2016 di Ma’had Al-jami’ah”.

“Soal kedisiplinan di sini disiplin banget. Mulai urusan dari bangun tidur, mendirikan shalat wajib secara berjamaah, serta shalat sunah termasuk tahajud, dilakukan secara  rutin. Alhamdulillah dampaknya sangat positif buat pribadi kami,” katanya. (Yesi Putri Lestari)

Contoh Feature Safinatul Ulum

Kubah putih dengan ukiran artistik menyembul di ketinggian. Dari kejauhan keindahan masjid itu berpadu dengan keasrian telaga buatan yang membentang seakan memagari masjid kebanggaan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan itu. Ya, inilah masjid modern berjuluk Safinatul Ulum yang nyaris rampung pembangunannya.

Bak oase, keberadaan kedua obyek tersebut menyedot minat mahasiswa atau akademisi kampus untuk melewatkan waktu senggang di sana. Banyak di antaranya yang sekadar duduk-duduk sambil merasakan usapan angin sepoy-sepoy, tapi tak sedikit pula yang memanfaatkan ketenangan suasana itu untuk membaca, berdiskusi atau malah mengaji Al Qur’an.



Banyak yang meyakini, suasana itu akan bertambah khusuk setelah Masjid Safinatul Ulum kelar dibangun. “Pasti akan ramai jamaah. Setelah salat, kan bisa duduk-duduk sambil nikmati pemandangan sekitar,” ungkap Widya, salah satu alumnus UIN Raden Intan yang kebetulan singgah di bekas kampusnya itu, Jum'at (20/4).

Kekaguman serupa juga diutarakan Ustadz Zainul Arifin, salah satu ahli ilmu falak, yang juga sedang berada di sekitar kampus. Menurutnya, masjid yang sedang dibangun UIN Raden Intan Lampung itu, memiliki keakuratan dalam menentukan arah kiblat. “Soal akurasi penunjukkan arah kiblat, bisa dibilang masjid ini merupakan salah satu masjid terbaik di Indonesia,” kata Zainul Arifin.

Anggun Devitha, Kepala Sub Bagian Kerjasama dan Kelembagaan UIN Raden Intan, turut pula menyatakan kekagumannya. “Luar biasa. Masjid ini nantinya akan menjadi salah satu masjid terbaik di Lampung. Masjid ini dibangun dengan fondasi yang kokoh, dindingnya dilapisi marmer, sedangkan tiang dan pilar penyangganya menggunakan bahan terbaik, bahkan beberapa materialnya didatangkan langsung dari luar negeri,” imbuh perempuan yang biasa disapa Ses Anggun itu. (Yesi Putri Lestari)